Cerita INDOPOS dari Tanah Suci, Bertemu TKI Korea

Beli Gedung Rp 6 M, Sudah Berdiri 57 Musalah

Jumat, 01 September 2017 | 23:10
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Foto : istimewah

INDOPOS.CO.ID - DI SELA-SELA wukuf di Arafah, Presiden Komisaris (Preskom) PT Indopos Intermedia Press, penerbit INDOPOS,  yang tahun ini kembali menunaikan ibadah haji, menyempatkan diri untuk membuat tulisan dan mengirimkannya ke Redaksi. Namanya juga wartawan, di tengah melaksanakan ibadah haji pun, ketika menemukan sesuatu yang menarik, akan menjadi berita. Berikut tulisannya;

 

Zainal Muttaqin, Makkah

 

Jutaan umat Islam dunia berkumpul di Arafah untuk menunaikan ibadah wukuf, sebagai puncak ibadah haji pada 9 Zulhijjah 1438 H, bertepatan hari Kamis (31/8). Padang gersang Arafah menjadi lautan manusia yang berpakaian ihram serba putih.

Jemaah dunia, termasuk Indonesia, sejak Rabu (30/8) sudah bergerak ke Arafah, berkumpul dan menyatu sesama muslim dunia. Tunduk dan sujud dalam satu kalimat, Allahu Akbar. Doa dan kalimat thoybah bergema dari tenda ke tenda.

Wukuf di Maktab 96 Arafah, ada satu rombongan jamaah haji berbendera Korea dan Jepang. Di tas cangklong yang diselempangkan di pakaian ihram mereka, juga ada bendera Korea-nya. Tapi kali ini ada yang berbeda. Mereka yang adalah para lelaki itu bukanlah lelaki yang kulitnya kuning, sebagaimana lazimnya lelaki Korea maupun Jepang. Kulit mereka agak gelap. Wajah mereka seperti kebanyakan wajah pemuda Indonesia.

Ketika didekati, mereka ternyata berbahasa Jawa. Wah, semakin menarik nih. Hingga akhirnya kenalan, salah satunya bernama Agus, 35, asal Madiun. Dia sudah sekitar 4,5 tahun bekerja di pabrik pulpen di Seoul. Ada juga Heru Vinun, 37, asal Trenggalek. Pria ini sudah 10 tahun bekerja di sebuah perusahaan perakitan mesin di Seoul.

Pria lainnya, Hamid Maulana Yusuf, 39, asal Lampung, sudah 12 tahun berprofesi welder (ahli las) di Seoul. Terakhir, Nurcholis, 39, asal Ponorogo, sudah 4 tahun bekerja di pabrik makanan, juga di Seoul.

Menurut mereka, ada 20 tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berhaji bersama rombongan mereka. Mereka berhaji dengan menggunakan jasa ONH Plus Golden Bridge milik Dyastriningrum Subandiati, perempuan asal Jogja yang sejak 10 tahun lalu mengelola ONH Plus di Seoul, Korsel.

Ongkos yang harus mereka bayar untuk berhaji ONH Plus dari Seoul per orang 4,5 juta won, setara Rp 50 juta. Di maktab 96 itu, juga ada rombongan ONH Plus asal Indonesia yang biayanya satu orang sekitar Rp 225 juta. Wow!

Menurut Agus, semangat beragama kebanyakan TKI di Korsel sangat tinggi. Terbukti, sudah ada 57 musala yang didirikan para TKI di seluruh Korsel. Dari jumlah tersebut, 50 musala masih sewa. Sedangkan 7 musala lainnya, didirikan di gedung yang mereka beli. Di antara 7 gedung itu, ada yang berharga 600 juta won, setara lebih dari Rp 6 miliar.

Bangunan berlantai lima itu sekarang digunakan untuk bermacam kegiatan ke-islaman. Ada juga ruang untuk belajar kajian Islam. ”Kami akan membangun masjid Indonesia di Seoul, di dekat Central Station Seoul,” kata Agus.

Masjid itu diperkirakan bisa digunakan pada 2020. ”Sekarang kami masih terus menghimpun dana dari para TKI di Korsel,” ujar Agus.

Menurut Agus, para TKI di Korsel bergaji di kisaran Rp 15 juta sampai Rp 20 juta. Biaya hidup mereka rata-rata setiap bulan Rp 5 juta. ”Kami semua keluarga muslim di Korsel kebanyakan masak sendiri di rumah untuk menjaga kehalalannya,” kata Agus.

Kalaupun sesekali makan di luar, ”Kami pilih makan di restoran Indonesia karena sudah kenal.” Dalam beribadah sehari-hari, hampir tidak ada kendala. ”Kecuali salat Jumat, kami hanya bisa jika sedang kerja malam atau libur,” kata Heru Vinun.

Namun, ada juga perusahaan yang memperbolehkan karyawan muslim salat Jumat pada hari kerja. ”Saya bisa salat Jumat seperti di Indonesia. Tidak ada masalah,” sambung Hamid Maulana Yusuf. Sebuah semangat ke-Islaman yang sangat menginspirasi. Sebuah gerakan yang diwujudkan di negara yang masyarakat muslimnya minoritas. (*)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
100%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%