Ini Sejarah Pulau Betuah yang Dijual

Rabu, 09 Agustus 2017 | 08:14
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Pulau Betuah hasil pencitraan satelit. Foto: Net

INDOPOS.CO.ID-Tentang rencana penjualan Pulau Betuah di Lampung, Suntan Marga Saibatin Bengkunat Belimbing Zulqoini Syarif yang merupakan tokoh masyarakat dan adat Bengkunat Belimbing  membenarkan adanya peralihan tanah seluas 10 hektare di Pulau Betuah kepada orang lain.

”Pada 1983, Sudibiyo warga Jakarta meminta ayah saya selaku pemilik tanah di Pulau Betuah menukar dengan dengan iming-iming tanah yang dimiliki Sudibiyo sudah memiliki sertifikat, sedangkan Pulau Betuah belum memiliki, sehingga atas dasar sertifikat itu orang tua saya menerima,” katanya.

Sehingga, semenjak itu Pulau Betuah dengan luas 10 hektare sudah dikuasai oleh Sudibiyo. ”Kami sebagai marga saibatin Bengkunat Belimbing merasa sedih, sampai hari ini kami sebagai suntan marga saibatin tidak menerima atas penukaran tanah antara tanah yang dimiliki Sudibyo 5 hektare dengan tanah di Pulau Betuah 10 hektare,” katanya.

Sementara, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Masyarakat Lingga Kesuma mengatakan, Pemkab Pesisir Barat sudah merespons adanya rencana penjualan Pulau Betuah.

”Kami sudah rapat kordinasi dengan Suntan Marga Saibatin Bengkunat Belimbing untuk meminta keterangan. Kami juga sudah berupaya menemui penjual, supaya tidak dijual kepada warga negara asing,” ujarnya kemarin.

Diketahui, Pulau Betuah juga dikenal dengan sebutan Pulau Batu Kecil. Nama Pulau Betuah sendiri disandangkan masyarakat setempat karena memiliki riwayat dan arti tersendiri.

Pulau ini berada di Kecamatan Bengkunat Belimbing, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Pulau tersebut merupakan salah satu pulau kecil terluar Indonesia.

Nama Pulau Betuah adalah nama yang disandangkan masyarakat setempat karena memiliki riwayat dan arti tersendiri. Masyarakat tidak memanfaatkan Pulau Betuah sebagai daerah permukiman, melainkan untuk kegiatan budi daya perkebunan kelapa. Pulau tersebut juga dijadikan area persinggahan nelayan tradisional. Selain untuk bersinggah, banyak nelayan yang kerap bermalam di pulau itu.

Banyak daya pikat yang dimiliki pulau tersebut. Antara lain bentangan pantai pasir putih yang luas dan adanya sumur sumber air tawar di tengah pulau. Selain itu, pulau ini tidak hanya cocok untuk wisata laut biasa, tetapi juga bisa digunakan untuk wisata diving serta surfing karena memiliki ombak yang cukup tinggi.

Menariknya lagi, pada 2007, saat masih masuk wilayah Lampung Barat, pemerintah saat itu telah mendeklarasikan Pulau Betuah sebagai kawasan konservasi. Itu lantaran di sepanjang garis pantai dan perairan tersebut sering ditemukan berbagai jenis penyu langka. Antara lain penyu hijau (chelonian mydas), penyu belimbing, penyu sisik (eretmochelys imbricate), serta penyu ridel (lepidochelys olivacea).

Selama ini, pulau dengan panjang garis pantai 210 kilometer tersebut tidak dimanfaatkan sebagai daerah permukiman (hunian). Melainkan untuk kegiatan budi daya perkebunan kelapa. Pulau ini juga dijadikan area persinggahan nelayan tradisional. Sesekali, para nelayan singgah untuk bermalam di pulau itu.

Sebagai pulau terluar, pulau ini memiliki titik dasar (TD) dan titik referensi (TR) sebagai acuan titik batas wilayah NKRI dengan nomor TNI-AL 060691 DKB 992. Di pulau ini juga telah dibangun mercusuar.(sur/try/jpg/c1/whk/Radar Lampung/JPG)

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%