Kisah Ardiansyah, 25, Petani yang Gandeng Dua Perempuan ke Pelaminan

Tinggal Satu Gubuk, Dijuluki Two in One

Kamis, 18 Mei 2017 | 13:27
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
POLIGAMI: Ardiansyah, 25, diapit Pegi Melati Sukma, 20, dan Ria, 25 di pelaminan.

INDOPOS.CO.ID - Foto seorang lelaki didampingi dua istri dalam sebuah pesta pernikahan, viral di media sosial (medsos). Ada yang mengucapkan selamat hingga mempertanyakan kelanggengan hubungan itu nanti. Siapa sebetulnya sang pangeran berbahagia itu?

Yudhi Afriandi – SEKAYU

MENGENAKAN batik warna kuning plus kopiah, Ardiansyah, 25, terlihat gagah diapit dua orang istrinya tadi malam. Kedua perempuan yang merebut hati pria yang berprofesi sebagai petani itu, tak lain, Pegi Melati Sukma, 20, dan Ria, 25.

Pacar warna merah terlihat di kuku jari jemari mereka. Senyum juga selalu menghiasi bibir ketiganya. Namun, mereka tak bisa menutupi kecanggungan satu sama lain. Sekilas Pegi lebih atraktif dibandingkan dengan Ria.

Ya...beginilah kalau cinta,” ujar Pegi kepada koran ini yang mengunjungi kediamannya, di Dusun V, Desa Kasmaran, Kecamatan Babat Toman, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel), pukul 20.00 WIB.

Kunjungan itu merupakan yang kedua kali. Berbeda dengan kedatangan koran ini pertama kali sekitar pukul 15.30 WIB. Saat itu, warga tak terlalu heboh. Nah, pada kedatangan kedua justru di rumah Ardiansyah yang banyak kedatangan tamu.

Maklum saja, pasangan yang dijuluki Two in One itu sedang menjadi perbincangan hangat, baik di medsos, di desa, maupun Kabupaten Musi Banyuasin.  Hanya, Ardi, sapaan Ardiansyah seolah terpengaruh. ”Kami yang jalani hidup ini. Keluarga juga mengizinkan,” ungkap Ardi sembari tersenyum. ”Kaget juga jadi heboh seperti sekarang,” tambahnya lagi.

Tak hanya di Sumsel, ada juga penelepon dari Bandung yang menanyakan kebenaran pernikahan tersebut. ”Ya, faktanya memang seperti ini. Kami saling mencintai,” tukas Ardi yang menerima wartawan koran ini di ruang tamu rumahnya semipermanen dari kayu sekitar 5x4 meter persegi.

Di desanya, Ardi bukan pemuda yang tergolong kaya. Sehari-hari berprofesi sebagai petani karet. Penghasilan sekitar Rp 900 ribu per bulan. Dia selama ini menjadi tulang punggung keluarga. Menghidupi ibunya, Yusmiati dan keempat adiknya. Ayahnya, Asri (alm) empat tahun lalu sudah meninggal dunia.

”Sejak itu, saya yang memikul tanggung jawab keluarga. Nah, sekarang tambah dua istri,” kata pria yang tidak tamat sekolah dasar (SD) itu sembari mengumbar senyum. Tapi, Ardi berjanji dia akan adil. Menafkahi kedua istrinya baik secara lahir maupun batin. ”Kalau sehari dapat Rp 10 ribu, ya terpaksa istri diberi masing-masing Rp 3 ribu. Sisanya buat keluarga,” kata Ardi tanpa malu.

Selain soal ekonomi, Ardi juga terus terang kalau mereka berbagi tempat di tempat tinggal yang dia sebut gubuk. ”Karena rumah sempit dan tamu masih ramai, jadi belum sempat malam pertama, mas,” katanya malu-malu.

Kok nekat nikahi dua wanita sekaligus? Ditanya demikian Ardi terdiam. ”Namanya jodoh,” tukasnya. Pegi dan Ria bukan perempuan satu desa dan sebelum hidup satu rumah, keduanya tidak saling kenal sama sekali.

Pegi disebut kembang desa di tempat tinggalnya, Karang Anyar, Kecamatan Lawang Wetan, Muba. Dia bertemu Ardi pada 2015 lalu di sebuah pesta pernikahan warga. Saat itu, Ardi tampil dan menyumbang suara emasnya. ”Aku tertarik dengan Mas Ardi karena pintar nyanyi. Suaranya bagus,” ungkap Pegi.

Sejak perkenalan itu, keduanya intens berkomunikasi. Padahal, Ardi sudah menceritakan kalau dirinya sudah punya pacar bernama Ria, 20, warga Desa Karang Ringin, Kecamatan Lawang Wetan, Musi Banyuasin.

Posisi desa Pegi dan Ria bersebelahan. Biasanya, kalau malam mingguan, Ardi ke rumah Pegi yang lebih dekat. Setelah itu, mengunjungi Ria yang sudah delapan tahun dia pacari. Seiring berjalan waktu, tiba-tiba Ardi mengungkapkan kepada Pegi kalau dia hendak menikahi Ria, yang sudah drop out dari salah satu perguruan tinggi di Kota Palembang. Rencana pernikahan sudah ditentukan 14 Mei 2017.

”Saat itu, aku datang ke Pegi dan menceritakan rencana pernikahan itu,” tutur Ardi. Pegi kaget. Dia minta agar Ardi bersedia menikahinya terlebih dahulu. ”Saya sangat mencintai Ardi. Beliau cowok yang baik dan memiliki wibawa,” timpal Pegi yang tamatan SMP itu.

Ardi menikahi Pegi pada 23 April lalu. ”Nikahnya di rumah ibu. Saya tidak minta uang atau harta apapun,” ujar Pegi lagi. Hanya, Ardi memberikan mahar emas setengah suku kepadanya.

Pegi juga mengizinkan Ardi melaksanakan niatnya, menikahi Ria pada 14 Mei lalu. ”Saya izinkan, mas (Ardi, Red). Tidak rela, tapi ya apa boleh buat, mas,” tukasnya lagi.  Harusnya hanya Ardi dan Ria saja yang naik pelaminan pada Minggu lalu. Namun, pihak keluarga Ardi merasa kasihan dengan Pegi yang pernikahan tak dirayakan. Maka itulah diputuskan kedua wanita yang dinikahi Ardi naik semua ke pelaminan.  ”Saya hanya nurut suami saja,” ucap Pegi.

Dia mengaku bisa hidup rukun dan bekerja sama dengan Ria dalam hal pekerjaan rumah. Kedua perempuan yang tidak bekerja itu berbagi tugas. Ada yang membersihkan rumah dan ada pula yang mencuci piring. ”Doakan kami bisa terus rukun,” tutup Pegi.

Awalnya, Yusnawati, ibunda Ardi mengaku meminta Ardi melepas Pegi dan menikahi Ria. Anehnya, Pegi malah minta dinikahi lebih dulu. ”Desakan nikah Pegi ini bukan karena dia ‘kecelakaan’ (hamil, Red). Nanti, mas bisa buktikan. Kalau ada yang melahirkan, kita undang ke sini,” selorohnya.

Herman, paman Ardi mengaku salut dengan langkah yang diambil keponakannya itu. Apalagi, belum pernah ada pria menikahi dua perempuan sekaligus dan hidup rukun. ”Sekarang banyak yang panggil Ardi Two in One. Memang tak lazim. Tapi, inilah kekuasaan Allah,” cetusnya.  (*/ce1)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%