Penjahat Berkedok Pahlawan Bawang

Ilegal, Izin 52 Ton, Tersimpan 182 Ton

Kamis, 18 Mei 2017 | 09:13
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Operasi pasar : Mentan Amran Sulaiman (dua kanan) melihat kualitas bawang putih asal Tiongkok di Jakarta, Rabu (17/5).

INDOPOS.CO.ID – Pengungkapan kasus penyelundupan 182 ton bawang putih PT LBU dan PT NBM menemukan fakta baru. Bareskrim memastikan PT LBU merupakan salah satu dari 42 importir yang memiliki izin mengimpor bawang putih untuk mengendalikan harga jelang puasa dan lebaran. Namun, izin impor itu hanya untuk bawang putih seberat 52 ton.

Dengan adanya 182 ton bawang putih yang telah berada di gudang, Bareskrim mengendus PT LBU memiliki rencana untuk mengimpor kembali bawang putih dengan kedok izin impor 52 ton bawang putih yang dikeluarkan Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Kemarin (17/5), Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman didampingi Wakapolri Komjen Syafruddin, Wakasatgas Pengawasan dan Penindakan Pangan sekaligus Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Tipideksus) Bareskrim Brigjen Agung Setya mengecek gudang penyelundupan di kawasan Marunda, Jakarta Utara.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Brigjen Agung Setya menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pengintaian terhadap aktivitas di gudang Marunda sejak tiga hari lalu. ”Berbekal informasi dari Kementan kami bergerak,” katanya.

PT LBU dan PT NBM diduga kuat memasok bawang putih ilegal tersebut ke gudang di Marunda melalui  Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan Pelabuhan Belawan, Medan. ”Truk-truk dari Medan sudah kami amankan,” katanya.

Saat ini, satgas sudah menahan tiga orang. Namun, pihak-pihak yang terlibat masih diklarifikasi. ”Semua modus kartel di wilayah Indonesia akan kami kikis habis,” kata Agung.

Yang ironis, ternyata PT LBU itu merupakan satu dari 42 importir yang baru seminggu mendapatkan izin impor bawang putih. Perusahaan itu mendapatkan jatah impor bawang putih sebanyak 52 ton. ”Baru seminggu punya izin impor 52 ton, tapi di gudang ternyata sudah ada 182 ton,” jelasnya.

Kondisi itu tentu patut dicurigai akan dimanfaatkan untuk kembali mengimpor bawang putih. Maka, prilaku bisnis dari PT LBU ini seperti pahlawan yang ternyata penjahat. ”Dia membantu pemerintah dengan impor bawang putih sebesar 52 ton, demi kendalikan harga saat puasa dan lebaran. Tapi, dibaliknya ternyata mengambil keuntungan yang begitu besar,” jelas Agung.

Belajar dari PT LBU ini, lanjutnya, maka akan 42 perusahaan yang mendapatkan izin impor ini tentu perlu untuk diteliti satu persatu. ”Jangan-jangan izin impor itu dijadikan kedok untuk bisa mengimpor bawang putih dengan jumlah yang lebih banyak,” papar Agung.

Setelah dari Marunda, rombongan kemudian bertolak menuju Pasar Induk Kramat Djati untuk menyaksikan proses gelontor Bawang Putih impor. ”(Harga bawang putih, Red) di Jabodetabek bergejolak pasti gara-gara ini (penyelundupan, Red),” ujar Mentan Amran.

Sekitar dua bulan sebelumnya, Amran sudah mencapai kesepakatan dengan Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita bahwa harga bawang putih tidak boleh lebih dari Rp 30.000  per kilogram. Namun, saat dirinya melakukan sidak ke pasar seminggu lalu, harga sudah mencapai Rp 45 ribu per kilogram. ”Ini berarti ada yang tidak patuh terhadap kesepakatan,” ujarnya.

Sebanyak 42 perusahaan importir bawang putih yang diberikan izin oleh Kementan dan Kemendag untuk mengimpor bawang putih sudah diinstruksi jangan memainkan harga. Tujuan impor ini mengendalikan harga selama puasa dan lebaran.  ”Masing-masing sudah diminta untuk tidak memainkan harga,” paparnya.

Amran sudah berkomunikasi dengan Mendag terkait temuan penyelundupan bawang putih impor pagi kemarin. Mereka bersepakat untuk mencabut izin perusahaan jika terbukti bersalah. ”Saat ini baru satu perusahaan, nanti kami beri tahu,” tandasnya.

Mulai seminggu terakhir, suplai bawang putih impor sudah mulai dimasukkan ke beberapa pasar di Jakarta. Pasar Induk Kramat Djati sendiri kemarin mendapatkan dua buah kontainer berisi masing-maisng sebanyak 29 ton bawang impor dari Tiongkok.

Masih ada sekitar 11 hingga 12 kontainer yang akan digelontor lagi secara bertahap pada periode awal puasa. Totalnya sekitar 90 ton. Amran mewanti-wanti agar harga dari importir ke pedagang bisa berada di kisara Rp 25 ribu per kilogram. Dengan demikian, masyarakat akan mendapatkan harga sekitar 25 hingga 30 ribu rupiah. ”Setelah bawang ini masuk, insya Allah harganya normal lagi,” pungkas Amran.

Sementara itu, Wakapolri Komjen Syafruddin mengatakan bahwa Satgas Pengawasan dan Penindakan Pangan akan bergerak khusus untuk mendeteksi aktivitas kartel di seluruh Indonesia. Satgas yang dibentuk tahun lalu ini akan meningkatkan pengawasan menjelang Ramadan. ”Investigasi akan tingkatkan sampai dua kali lipat,” katanya.

Tidak hanya bawang, Syafruddin menyatakan bahwa semua jenis komoditas saat ini rawan dimainkan kartel. Bentuknya seperti penimbunan, penyelundupan, maupun permainan harga. Semua pelabuhan dan garis pantai seluruh Indonesia juga diawasi ketat. ”Seluruh daerah di Indonesia saat ini rawan kartel,” ujar mantan Kepala Lembaga Pendidikan Kepolisian (Kalemdikpol) tersebut.

Sedangkan Brigjen Agung Setya menambahkan, dengan adanya kelebihan impor bawang putih sebanyak 130 ton tersebut, tentunya jangan sampai bawang putih ini kemudian sia-sia. Perlu untuk dilakukan terobosan yang bisa menguntungkan masyarakat, misalnya setelah disita negara, lalu dilelang untuk masyarakat. ”Jangan sampai malah layu dan sia-sia,” paparnya.   (tau/idr)

 

 

 

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%