Tenang Dikelilingi Hafiz

Wafatnya Sang Guru Bangsa, KH Hasyim Muzadi

Kamis, 16 Maret 2017 | 23:10
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Ribuan warga mengusung jenazah alm. KH. Ahmad Hasyim Muzadi seusai dishalatkan di Komplek Pesantren Al Hikam, Depok, Jawa Barat, Kamis (16/3). KH. Ahmad Hasyim Muzadi meninggal dunia pada Kamis (16/3) pagi di Malang karena kesehatannya memburuk.

INDOPOS.CO.ID – Ribuan pelayat mengantar jenazah KH Achmad Hasyim Muzadi ke pusara di kompleks Pesantren Al Hikam, Depok, Jawa Barat, kemarin (16/3) petang. Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PB NU) dua periode itu wafat pada usia 72 tahun karena sakit di RS Lavalette, Malang, Jawa Timur, pagi sekitar pukul 06.15 WIB.

Setahun sebelum meninggal dunia, KH Hasyim memang berwasiat agar dimakamkan di Pesantren Al Hikam Jalan H Amat, Kukusan, Depok. Meskipun dia juga punya pesantren Al Hikam di Malang. Bahkan, dia pun telah memilih lokasi di sebelah timur gedung Pesantren Mahasiswa Al Hikam dan Sekolah Tinggi "Kulliyatul Qur'an". Para santri yang menghafalkan Alquran menempati gedung bercat putih itu.

”Karena ingin dekat dengan santrinya itu. Harapannya karena di sini ada yang hafiz (penghafal Alquran, Red) 30 juz, beliau ingin terus mendengarkan. Pesannya itu saya kira,” ujar Abdul Hakim Hidayat, putra pertama KH Hasyim yang ditemui disela-sela pemakaman.

Dia menuturkan, selama menjalani perawatan di Malang, KH Hasyim juga meminta para santri untuk terus membaca Alquran. Sedikitnya ada 24 santri yang rutin khataman Alquran. Enam di antara para santri itu juga ikut serta dalam satu pesawat Hercules TNI AU yang membawa jenazah KH Hasyim dari Bandara Abdurahman Saleh, Malang ke Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta. ”Selama perjalanan terus membacakan Alquran di dalam pesawat,” ujar Hakim yang turut dalam pesawat tersebut.

Menurut Hilmy M. Nur, santri KH Hasyim, yang juga ikut dalam pesawat suasana begitu syahdu dan khidmat. Dia pun merinding lantaran sepanjang penerbangan itu tidak henti-hentinya para santri membaca Alquran. ”Sekitar dua jam mengaji tiada henti,” kata pria yang juga Humas Masjid Al Akbar Surabaya itu saat ditemui di lokasi pemakaman.

Lebih lanjut, Hakim menuturkan bahwa KH Hasyim memang sudah sakit sejak lama. Yang dia sebutkan pada 2004, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) itu diketahui menderita hepatitis. ”Nah itu mungkin berkelanjutan,” imbuh Hakim.

Peti jenazah KH Hasyim tiba di rumah duka sekitar pukul 16.20 WIB diiringi dengan doa dan tangis haru. Jenazah yang telah dimasukkan keranda langsung dibawa ke Masjid Al Hikam untuk disalatkan. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) bersama Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin, Imam besar Masjid Istiqlal Nasarudin Umar dan ribuan jamaah lain menyalati dengan imam Said Aqil Husain Al Munawar.

Almarhum KH Hasyim dimakamkan dengan upacara militer. JK menjadi inspektur upacara dan menyampaikan bela sungkawa mewakili Pemerintah Indonesia. KH Sholahuddin Wahid mewakili keluarga KH Hasyim menyampaikan terima kasih dan permintaan maaf. ”Beliau ini punya prinsip. Tapi bisa mengkomunikasikan dengan baik, sehingga semua bisa menerima. Juga jelaskan yang rumit dengan cara sederhana,” ujar adik Gusdur yang akrab disapa Gus Sholah itu.

Pemakaman itu baru selesai sekitar pukul 17.30 WIB, dan para pelayat masih terus berdatangan ke pusara KH Hasyim untuk mendoakan dari dekat. JK menuturkan, salah satu kelebihan KH Hasyim semasa hidup adalah mau turun langsung dan mau berkunjung. Tidak hanya menunggu untuk didatangani. ”Banyak ulama kos, tapi tinggal di pesantren atau menunggu. Beliau ini sebaliknya, kalau ada apa-apa beliau datangi,” kata dia di kantor Wakil Presiden siang kemarin.

Dia pernah punya kenangan khusus dengan KH Hasyim untuk memulihkan pariwisata pasca bom Bali. Di sebuah restoran saat makan siang, JK mengundang KH Hasyim dan Syafii Maarif untuk membicarakan hari libur agar masyarakat bisa berwisata. ”Bagaimana Bali itu dikembangkan lagi dengan cara ada long weekend days, merubah libur,” ujar dia. KH Hasyim pun tidak berkeberatan.

Dari pembicaraan  tersebut, terbitlah surat keputusan bersama pada 2002 itu mengatur libur nasional yang jatuh di luar Senin dan Jumat, liburnya dipindahkan ke Senin dan Jumat. Kecuali hari besar berhubungan ibadah, seperti Hari Idul Fitri, Idul Adha, Natal, Proklamasi Kemerdekaan RI, dan Nyepi.

Terpisah, rasa duka mendalam atas kepergian KH Hasyim juga dirasakan Presiden Jokowi. Orang nomor satu di Indonesia itu mengaku kehilangan sosok yang amat dihormatinya tersebut. ”Atas nama pemerintah, atas nama rakyat Indonesa, saya ingin menyampaikan duka yang sedalam-sedalamnya semoga arwah beliau dterima disisi-Nya, diberikan tempat yang terbaik,” katanya seusai meresmikan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Nanga Badau, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, kemarin (16/3).

Di mata Presiden, KH Hasyim bukan hanya seorang ulama semata, melainkan juga sosok guru bangsa yang wajib diteladani. Terlebih, atas konsistensinya yang senantiasa menjaga semangat kebhinekaan di Tanah Air. ”Beliau seorang ulama besar, seorang ulama yang selalu mendinginkan suasana, selalu meyejukkan hati kita,” kata mantan Wali kota Solo tersebut.

Duka mendalam turut dirasa Menag Lukman. Menurutnya, Indonesia telah kehilangan salah satu sosok ulama yang tidak hanya ahli dalam ilmu agama, tapi juga sangat peduli dengan ke-Indonesiaan dan kerukunan. Hal itu sering dikemukakan alm KH Hasyim tatkala berada di forum nasional maupun internasional.  ”Beliau sangat peduli, bagaimana agar Indonesia tetap terjaga dan terpelihara sebagai bangsa religius dan rukun di tengah-tengah keragaman,” ujarnya.

Lukman turut menyebut keahlian mantan Ketua PB NU tersebut yang begitu pandai dalam mengartikulasikan ide dan pikiran, sehingga bisa dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. ”Dengan keluasan ilmu dan sikap kenegarawannya, beliau bisa menyampaikan pokok pikiran baik untuk kalangan akademisi maupun awam,” ungkapnya.

Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tersebut berharap seluruh lapisan masyarakat bisa meneladani sikap dan perilaku KH Hasyim. Dia pun berdoa, agar KH Hasyim mendapat di tempat yang sebaik-baiknya disisi-NYA."Semoga Allah Swt mengampuni segala salah dan khilafnya serta menerima segala amal kebaikannya," harap dia. Amin! (jun/far/mia)

 

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%