Bongkar Pedofilia, PMJ Gandeng FBI

Rabu, 15 Maret 2017 | 23:35
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya (PMJ) masih terus mengembangkan penyelidikan dan penyidikan untuk menemukan kemungkinan adanya tersangka baru maupun korban-korban lainnya dalam kasus kejahatan seksual pedofilia berbasis online yang menjadikan anak sebagai korbannya melalui media sosial Facebook dengan akun bernama ’Official Candy’s Group 18+’.

Hal tersebut dilakukan polisi, sebab kuat dugaan masih banyaknya anggota yang terlibat dalam akun tersebut. Bahkan salah seorang tersangka, DS saat diperiksa penyidik mengaku pernah melakukan kekerasan seksual terhadap empat orang anak yakni, keponakan dan tetangganya. Sementara salah satu tersangka, Wawan alias Snorlax, bahkan memiliki jaringan dengan grup pedofil dari sembilan negara asing.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M. Iriawan maupun Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Pol Wahyu Hadiningrat yang memimpin penyidikan menegaskan, untuk mengungkap pelaku lainnya, mereka bekerja sama dengan kepolisian federal Ameriksa Serikat (as), yakni Federal Bureau of Investigation (FBI). Hal tersebut dilakukan juga untuk menelusuri jaringan pedofil itu.

”Korban-korbannya kemungkinan besar bertambah, bisa mencapai ratusan. Tapi yang jelas hingga saat ini yang sudah teridentifikasi korbannya ada delapan orang. Dan dari hasil pengembangan penyidikan diketahui kalau sebagian besar korban diduga merupakan orang dekat para pelaku. Orang dekat itu ada yang tetangganya pelaku sendiri. Artinya kebanyakan korbannya itu adalah orang dekat yang bisa diak‎ses pelaku dan yang jelas dalam kasus ini kemungkinan ada pelaku lain. Saat ini tim kami masih terus bekerja dalam rangka mengindentifikasi,” terang Wahyu di Markas PMJ, Rabu (15/3).

Ia menambahkan, sekarang satu demi satu profil setiap korbannya itu akan dipelajari dan dianalisis pihaknya, selanjutnya akan dicari kelengkapan identitasnya. ”Jadi lengkap itu dalam arti korbannya ada, bukan hanya dalam bentuk gambar, serta ada pelakunya, dan tempatnya (tempat kejadian perkara, Red) diketahui,” terang Wahyu.

Terkait pencarian para pelaku lain, lanjut dia, pihaknya memang sedang mengindentifikasi para pelaku lain. Ini dikarenakan barang bukti yang sudah dikantungi pihaknya adalah gambar dan rekaman film korban. ”Karena itulah kami harus tahu siapa pelakunya, serta kapan dan dimana dilakukan,” tukas Wahyu.

Dia menambahkan, khusus di grup facebook ’Official Candy’s Group18+’ berisi 100 konten foto dan 500 rekaman video porno bermateri aksi pedofil atau perilaku pornografi yang melibatkan aknak-anak di bawah umur. ”Ada grup-grup lain di media sosial yang diikuti pelaku yang saat ini masih kami telusuri,” imbuhnya.

7.497 Member Pedofil

Untuk diketahui, tim reserse dari Subdit Cyber Direktorat Reskrimsus PMJ meringkus empat pelaku jaringan pedofilia yang mengunggah semua hasil rekaman gambar dan film kejahatannya ke facebook.com  dengan nama grup akun ’Official Candy’s Group18+’. Para pelaku yang diringkus itu antara lain Muhammad Bahrul Ulum alias Wawan alias Snorlax, 25; DS alias Illu Inaya alias Alicexandria, 27; SHDW alias Siha Dwiti, 16; dan DF alias T-Day, 17. Wawan ditangkap di Malang, Jawa Timur; Illu dibekuk di Tasikmalaya, Jawa Barat; SHDW ditangkap di Tangerang, Banten; dan DF ditangkap di Bogor, Jawa Barat.

Pelaku utama adalah Wawan yang merupakan inisiator dan pendiri grup Facebook tersebut, sedangkan tiga pelaku lainnya berperan sebagai administrator dan juga pemegang aturan (rules) dalam grup tersebut. Akun pedofil pada Facebook itu sendiri diketahui pertama kali diluncurkan Wawan pada September 2016, dan hingga kini sudah mencapai 7.497 anggota grup.

Materi kejahatan seksual terhadap anak semakin banyak di dalam grup Facebook itu sendiri lantaran setiap calon anggota atau member grup yang sudah terkoneksi ke jaringan pedofil internasional, maka ada kewajiban untuk mengirimkan gambar maupun video perbuatan seksual dengan anak kecil dan belum pernah diposting sebelumnya. Hal tersebut disyaratkan kepada anggota untuk menunjukkan aktivitas mereka di dalam grup, sehingga keanggotaannya tidak dihapus kalau memang terlihat pasif.

Setiap anggota grup tersebut juga bisa saling berkomunikasi (chatting), berbagi (sharing), dan menampilkan (upload) foto dan video berkonten pornografi dengan objeknya anak-anak usia sekitar 2-10 tahun. ”Para pelaku yang kami amankan tidak saling mengenal satu sama lain. Tetapi mereka menjadi administrator dan mengelola grup Facebook tersebut bersama-sama. Jadi mereka punya kesamaan orientasi, sehingga match (nyambung, Red) dalam mengelola grup tersebut bersama-sama,” papar Kapolda Irjen Iriawan.

”Pelaku atau member harus aktif, kalau pasif, maka akan dihapus dari keanggotaan. Sementara member yang  mengirim gambar atau video tersebut (aksi pedofil, Red) mendapat Rp 15 ribu. Dalam hal ini bukan faktor ekonomi yang pelaku kejar, tapi kepuasan tersendiri,” tandasnya.

Iriawan mengatakan, pihaknya terus mengembangkan kasus ini karena diduga masih banyak lagi member yang terlibat dalam akun tersebut, maupun pelaku yang ikut tergabung dalam grup lain yang serupa. ”Masih ada grup media sosial yang serupa dan kami akan bongkar,” tegasnya.

Ditegaskannya pula, para pelaku dijerat Pasal 27 ayat 1 Jo Pasal 45 ayat 1 UU RI No 19/2016 tentang perubahan atas UU RI No 11/2008 tentang ITE dan/atau Pasal 4 ayat 1 Jo Pasal 29 dan/atau Pasal 4 ayat 2 Jo Pasal 30 UU RI No 44/2008 tentang Pornografi dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara plus pengebirian.

Sementara itu, M. Bahrul Ulum alias Wawan alias Snorlax, 25, kepada penyidik mengaku memiliki jaringan pelaku pedofil di beberapa negara, bahkan wawan mengaku memiliki grup sesama penyuka pedofil di aplikasi WhatsApp (WA) dan Telegram hingga mencapai 11 grup.

Ke-11 grup WA itu berasal dari sembilan negara bagian Amerika Latin seperti Argentina dan Peru, satu grup WA lokal bernama Candy's yang isinya orang Indonesia semua dimana Wawan sebagai administratornya. Sama halnya dengan di grup Facebook, aktivitas di grup WA dan Telegram itu berisi komunikasi chating, sharing, dan uploading konten pornografi anak di bawah umur, serta ajang untuk saling berbagi foto dan rekaman video aksi pedofilia.

Kasubdit Cyber Crime Direktorat Reskrimsus PMJ AKBP Roberto Pasaribu menjelaskan, sistem pendapatan yang diperoleh anggota group Facebook ’Official Loly Candy’s18+’ itu dalam bentuk elektronik virtual Paypal atau jasa tranfer uang melalui surat elektronik yang kemudian diubah dalam bentuk pulsa. ”Virtual paypal adalah metode pembayaran secara elektronik virtual yang ada dalam bentuk paypal dan transfer. Selanjutnya nanti tinggal diubah mau bentuk pulsa. Nah, dalam kasus ini pembayaran dilakukan oleh admin,” terang Roberto.

Ia menambahkan, dengan adanya sistem tersebut anggota akan mendapat keuntungan dari foto atau video yang diunggah berdasarkan banyaknya viewers yang masuk. ”Jadi ada sebuah sistem yang ketika di klik per view akan mendapat poin. Nah poin itu yang akan dikonversi menjadi mata uang elektronik,” ungkapnya.

Dari hasil penyelidikan sudah dapat diidentifikasi adanya anggota grup tersebut yang sudah mendapat keuntungan meskipun belum diketahui berapa nominal yang diterima. ”Sudah ada pelaku yang menerima keuntungan dalam bentuk pulsa tapi dalam kapasitas yang masih jauh,” katanya.

Dari setiap anggota, lanjut Roberto, jumlah poin yang didapat berbeda-beda dalam setiap gambar yang diunggah. Untuk itu, tim Cyber Crime PMJ masih terus melakukan analisa dan diidentifikasi untuk mencari tahu keuntungan yang didapat member group tersebut.

Namun meski belum diketahui apakah semua anggota yang berjumlah ribuan tersebut hanya semata-mata mencari keuntungan, namun Roberto memastikan semua anggota mengidap penyakit kelainan seksual akut. ”Yang jelas semua pelaku ini bisa dikategorikan pelaku penyimpangan seksual. Sebab semua imej yang di-share itu terdiri 500 video dan 200 dalam bentuk gambar porno yang melibatkan anak-anak sebagai korbannya,” pungkasnya. (ind)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%