Pierce Vaughn, Bule Prancis yang Garap Film Dokumenter Tarian Khas Dayak

Dipilih Tarian Perang, Kaki Sepupunya Melepuh

Senin, 13 Maret 2017 | 15:24
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
TAMPIL: Guillaume Sanchez (dua kanan) menari di Rumah Betang, Katingan, Kalteng

INDOPOS.CO.ID - Budaya Dayak Kalimantan kembali dipromosikan ke pentas internasional. Ini melalui garapan film dokumenter Dance Around The Globe (DATG) yang disutradarai Pierce Vaughn, bule asal Prancis. Seperti apa?

YUNIZAR PRAJAMUFTI, Palangka Raya

BERTEMU dengan sang sutradara Pierce Vaughn di sebuah kafe ternama di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, wartawan koran ini disambut hangat pada Sabtu (11/3) lalu. Sangat banyak cerita dan pesan yang ingin disampaikannya.

Dengan penuh semangat Pierce menjelaskan, proyek film dokumenternya menghabiskan waktu dua tahun lebih itu dipersembahkan kepada seluruh penjuru dunia. Film itu kini bisa diakses di youtube.com/dancearoundtheglobe.

Dia menceritakan, proyek film Dance Around The Globe atau secara harfiah berarti menari keliling dunia, berawal dari pertemuan dengan sepupunya, Guillaume Sanchez untuk membuat program TV Show. Guillaume sangat tertarik dalam dunia tari dari sejak kecil, mengetahui Pierce berkecimpung di dunai produksi film. ”Dari situ berencana membuat film TV Show nonprofit. Dia keliling dunia dan belajar tari eksotis sepeti tari hula dari Hawai,” ucap Pierce dengan berbahasa Indonesia.

Konsepnya, sambung dia, Guillaume pergi ke suatu negara dan belajar tari selama satu minggu dengan orang lokal. Dia harus menampilkan tarian itu di hadapan masyarakat lokal. Karena Peirce sudah berada di Palangka Raya selama tujuh tahun dan sering melihat tarian Dayak di berbagai acara. Menurutnya, tarian Dayak sangat eksotis. Negara lain tidak bisa melihat tarian eksotis khas dayak.

”Ketika ada penampilan dari salah satu sanggar, saya kirim video itu ke Guillaume dan dia langsung tertarik. Gouilloume langsung mengatakan tarian itu tarian luar biasa dan tarian sepeti itu yang ingin ia pelajari. Jadi kita putuskan untuk bikin poyek pertama di Kalteng,” ujar pria kelahiran Prancis 19 April 1984 ini.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini juga menyampaikan, dengan begitu dirinya memutuskan untuk mencari sanggar di Palangka Raya yang bisa membantu proyek filmnya. Dia direkomendasikan teman-temannya agar bekerja sama dengan sanggar Tutwuri Handayani binaan Jimy O. Andin.

”Setelah bertemu dan pihak dari sanggar Tutwuri Handayani setuju kita pelajari tari Tegah Penyang. Tarian perang tapi bukan memerangi orang lain, perang melawan diri sendiri untuk menjadi seseorang. Tarian ini juga mengajarkan kedekatan kepada alam. Itu penting sekali. Kalau mau belajar budaya Dayak harus mengerti tentang alam,” tuturnya.

Pierce mengungkapkan, sepupunya itu awalnya berpikir proses belajar Tari Tegah Penyang akan menyenangkan. Tapi ternyata, tari Dayak ini serius sekali. Sebab, tarian Dayak bukan untuk sekadar kesenangan tapi tarian ini juga untuk mengingat leluhur atau nenek moyang.

Bahkan, pihak sanggar Tutwuri Handayani pun perlu satu tahun berlatih agar sempurna memperagakan tarian tersebut. Namun, Guillaume cuma belajar selama satu minggu saja dan itu merupakan tantangan.

”Awalnya Guillaume percaya diri bisa. Tapi ketika satu hari berlatih, dia kelelahan sempat pesimistis tidak akan berhasil. Bahkan ketika berlatih kedua kaki sepupu saya sampai melepuh. Dia terbiasa menari dengan sepatu. Tapi tarian Dayak beda, harus tanpa alas. Tapi dia terus kerja keras agar penampilannya di hadapan orang dayak sendiri bagus. Kalau orang melihat video ini, mereka pasti kagum,” ungkap adik kandung Bjorn Vaughn ini.

Pada kesempatan berbeda, penulis sedikit ingin mengetahui komentar pelatih tari dari Guillaume yakni, Trisno Edi Suprianto SPd. Menurut pria yang akrab dipanggil Nino ini, awalnya mereka kaget ada orang asing ingin belajar tari Dayak. Namun karena niatannya baik mau belajar dan berusaha serta berkomitmen, pihaknya bersedia membantu mengajarkan.

”Awalnya kita terkejut. Ada apa ini? Kok bule mau belajar tari Dayak. Tapi melihat kesungguhannya kita juga merasa terbantu karena budaya kita akan dipromosikan orang luar,” ucapnya melalui telepon.

Ketika Guillaume ingin belajar, sambung Nino, pihaknya ingin Guillaume mengenal alam dan bumi Dayak dulu serta merasakannya. Harus latihan tanpa alas kaki untuk merasakan bumi Dayak. ”Dia sangat memaknai sekali proses belajarnya,” pungkasnya. (*)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%