Wapres Sebut Ada Kejanggalan Penahanan WNI Terduga Pembunuh Kim Jong Nam

Jumat, 17 Februari 2017 | 18:39
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Warga Negara Indonesia (WNI) Siti Aisyah (SA) atas dugaan pembunuhan terhadap warga Korea Utara, Kim Jong Nam

INDOOPOS.CO.ID - Penahanan Warga Negara Indonesia (WNI) Siti Aisyah (SA) atas dugaan pembunuhan terhadap warga Korea Utara, Kim Jong Nam dinilai janggal. Dikatakan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, kejanggalan itu bisa dilihat dari sikap SA yang tak hendak kabur dari Negeri Jiran usai menyandang status Daftar Pencarian Orang (DPO). Siti malah menginap di hotel dekat Bandara dan tidak meninggalkan Negara tersebut.

Jika benar bahwa tuduhan selama ini SA adalah mata-mata atau agen, maka seharusnya WNI asal Banten itu pergi tanpa meninggalkan jejak. "Saya kira sudah tidak ketahuan kemana rimbanya tapi kok dia pergi di hotel tidur," kata Wapres di Kantornya, Jakarta, Jumat (17/2).

Selain dari gerak-gerik, pria yang akrab disapa JK ini juga mendapat informasi dari pihak-pihak terkait kronologi pembunuhan. Menurutnya apa yang dialami Kim Jong Nam, kakak Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un beserta 3 orang yang ditahan terkait pembunuhan itu masih sumir. Atas dasar itu JK menduga kesemuanya adalah korban dari permainan oknum yang hendak memutarbalikkan fakta.

"Kalau dari informasi yang kita terima dan juga apa yang beredar di media, ini kalau dapat disingkatkan begini, apa yang terjadi di kuala lumpur itu korban dari korban. Jadi Kim itu ya korban. Karena ini Aisyah korban juga, korban dari semacam rekayasa atau penipuan," jelasnya.

Seperti diketahui, penahanan WNI terduga pembunuh di Malaysia langsung direspon oleh Kementerian Luar Negeri RI. Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemenlu, Lalu Muhammad Iqbal mengatakan bahwa Kedutaan Besar RI di Negeri Jiran sudah memverifikasi identitas SA sebagai WNI. Upaya pendampingan hukum juga sedang dilakukan dengan koordinasi bersama Kepolisian Diraja Malaysia

Sesuai ketentuan Malaysia, akses kekonsuleran biasanya diberikan setelah 1 minggu karena dalam masa siasatan (pemeriksaan) tersangka belum boleh ditemui oleh Perwakilan RI maupun lawyer. KBRI Kuala Lumpur memiliki 2 team lawyer untuk memberikan pembelaan hukum kepada WNI yang menghadapi masalah hukum di Malaysia. Team lawyer yang disewa KBRI Kuala Lumpur bahkan salah satunya khusus diperuntukkan untuk melakukan pembelaan hukum terhadap WNI yang dituduh melakukan tindak pidana dengan ancaman hukuman mati seperti pembunuhan, pemilikan senjata api secara ilegal, penculikan dan perdagangan narkotika. 

"KBRI in close contact dan koordinasi dengan aparat hukum terutama kepolisian Malaysia, karena ini masih dalam proses investigasi," kata Iqbal.

Lebih lanjut ia juga menyebut bahwa Kemenlu telah memiliki data lengkap terkait SA, mulai dari kapan masuk ke Malaysia, tempat tinggal selama di sana dan daerah asalnya. Namun karena proses hukum masih berlangsung Iqbal tak bersedia membeberkan data-data tersebut. Media juga diimbau untuk menghargai privasi SA agar tak dibuka data pribadinya.

Terpisah, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) turut menyikapi penangkapan SA. Kepala BNP2TKI, Nusron Wahid menyebut SA tak memiliki dokumen ketenagakerjaan atas namanya, hal tersebut diketahui usai pihaknya membuka database Tenaga Kerja Indonesia (TKI). "Berdasarkan pengecekan di database BNP2TKI tidak ditemukan nama Siti Aisyah sebagai Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di Malaysia," katanya. (adn)

Editor : Syahrir Lantoni
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%