Dua Jam Dipukuli, Taruna STIP Tewas oleh Seniornya

Kamis, 12 Januari 2017 | 07:39
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
BERDUKA: Para taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) berdoa di pusara Amirulloh Adityas di TPU Budhi Dharma, Semper, Jakarta Utara, Rabu (11/01). Amirulloh Adityas adalah taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Cilincing yang tewas setelah dianiaya seniornya.

INDOPOS.CO.ID- Kasus bully terhadap senior ke junior yang menyebabkan kematian kembali terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), Jakarta Utara, Rabu (11/1). Kali ini menimpa taruna tingkat satu, Amirulloh Adityas Putra (18) harus kehilangan nyawa usai dihujani bogem mentah di dadanya.  Amir terluka di sekujur tubuh termasuk organ dalamnya. Amir seketika tewas karena lemas.

’’Bibir bagian bawah dalam ada luka lecet, organ dalam rusak, di dalam jantung dan paru paru terdapat gumpalan pendarahan. Sementara di lambung, berisi cairan kehitaman sisa minuman, korban negatif menggunakan narkoba,’’ tutur Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombespol M. Awal Chairuddin, di Polres Metro Jakarta Utara, Rabu (11/1).

Polisi telah menangkap lima orang senior Amir, yakni Sisko Mataheru (19), Willy Hasiholan (20), Iswanto (21), Akbar Ramadhan (19), dan Jakario (19). Kelima mahasiswa tingkat II itu terbukti kuat dan sengaja melakukan penganiyaan terhadap Amir serta lima rekan seangkatan korban. Yakni Ahmad Fajar, Ilham Wally, Bagus Budi Prayoga, Josua Simanjuntak, dan Benny Syahril.

Kelima korban juga mengalami luka memar di beberapa bagian tubuhnya. Kapolres mengatakan, kasus ini bermula saat seorang pelaku, Sisko Mataheru, mengajak teman-temannya tingkat II untuk melakukan ploncoan terhadap anggota junior unit kegiatan marching band. ’’Ini merupakan budaya taruna dari senior terhadap juniornya. Setiap ada pemain marching band baru mereka melakukan ploncoan,’’ tambah Awal lantas menjelaskan kegiatan dilakukan pukul 17.00, Selasa (10/1) lalu.

Usai berbincang dengan sejumlah rekannya, para pelaku mengumpulkan enam juniornya di ruangan dermotory ring 4 atau tempat ganti pakaian mahasiswa sekitar pukul 22.00. Di tempat itu para pelaku membariskan juniornya dan melakukan penyiksaan. Tak hanya memukul bagian dada dan ulu hati dengan tangan kosong, pelaku juga secara beruntun melakukan tendangan kaki terhadap para korbannya.

Dua jam dipukuli, Amir tumbang. Para pelaku kemudian panik lalu membaringkan korban di kasur. Setelah itu melaporkan kejadian ini ke mahasiswa tingkat empat. Setelah itu, dengan menggotong korbannya, mereka membawa ke dokter klinik. Tapi, nyawa Amir tak bisa diselamatkan. Dokter klinik menyatakan Amir tewas pukul 00.15 WIB. Pihak STIP lantas melaporkan kejadian ini ke Polsek Cilincing. 

Polisi masih menyelidiki kasus ini. Dari rekam jejak yang ada, sedikitnya dua kasus sudah di tangani oleh Polres Metro Jakarta Utara. Tiga mahasiswa meninggal karena kasus kekerasan serupa pada 2012 dan 2013, lalu peristiwa ini. Awal menduga pada tahun-tahun sebelumnya, kasus serupa terjadi di kampus yang beralamat di kawasan Marunda, Jakarta Utara, itu. Terutama pada unit kegiatan marching band.

Dari olah TKP yang dilakukan kemarin subuh (Rabu), polisi berhasil mengamankan sebotol minyak tawon, sebotol minyak telon, gayung mandi, gelas, dan dua puntung rokok. ’’Sejauh ini yang baru diketahui pelaku menganiaya dengan tangan kosong,’’ tuturnya. Menurut Awal, para pelaku yang diamankan terbukti kuat melakukan pengeroyokan dan didakwa melanggar pasal 170 jo 351 ayat 1 tentang penganiyaan yang menyebabkan kematian terhadap korbannya. Mereka terancam hukuman 12 tahun penjara.

Sementara kepada pelaku yang melakukan Bullying kepada juniornya, pihak STIP bakal melakukan sidang kehormatan. Bila nantinya terbukti melakukan pemukulan, maka lima taruna yang diamankan polisi ini akan dikeluarkan. Kepala BPSDM Perhubungan Wahju Satrio Utomo di STIP mengatakan investigasi kasus ini masih berlangsung. Tim internal telah dibentuk untuk mengetahui detail kejadian. ’’Masih kami dalami,’’ jelasnya.

Sementara, untuk mencegah kasus serupa terulang, pihak STIP akan melakukan pemisahaan barak terhadap mahasiswanya. Serta pagar pembatas akan dibuat termasuk memasang CCTV di sejumlah lorong  dan melakukan pemeriksaan mulai dari jam 10 malam ke atas. ’’Kami juga akan melarang taruna untuk tidak keluar barak mulai pukul 21.30,’’ tuturnya.

Wahju menargetkan dalam dua hari kerja tim investigasi dapat melaporkan kejadian tersebut, sehingga evaluasi untuk melakukan pengawasan bakal dilakukan lebih ketat. Meski demikian, Wahju membantah telah kecolongan dalam peristiwa ini. Sebab, pengawasan terhadap kegiatan taruna sudah dilakukan maksimal termasuk meminta bantuan 12 orang pengawas dari TNI dan Polri. 

’’Ya saya katakan kami tunggu hasilnya dari tim investigasi,’’ tegasnya. Upaya lainnya yang dilakukan agar peristiwa tak terulang, Wahju akan mengupayakan pembinaan hubungan baik antara senior dan junior melalui berbagai acara, seperti olahraga dan musik.  ’’Setiap taruna baru masuk sudah tulis surat pernyataan soal itu, ‘’tuturnya.

Hal senada diungkapkan Kasubag Humas STIP Kapten Ariyandi Syamsul Bahri. Dia mengaku sangat prihatin atas kejadian yang menimpa Amirulloh Adityas Putra. Menurutnya, kejadian tersebut sama sekali di luar dugaan pihak sekolah. Sebab, selama ini tidak pernah terjadi tindak perilaku kekerasan di dalam lingkungan STIP. ’’Kami sangat berduka atas kepergiannya, sayang sekali harus ada kejadian seperti ini,’’ ucap Ariyandi.

Kejadian ini juga sangat mengejutkan, lanjut Ariyandi. Menurutnya, selama ini pihak sekolah selalu memberikan pengawasan dan kontrol yang ketat kepada setiap siswa di lingkungan STIP. Setiap angkatan diberikan gedung asrama tersendiri sesuai dengan tingkatannya. Sehingga kecil kemungkinan seharusnya bisa terjadi tindak kekerasan di lingkungan sekolah.  ’’Di sini setiap tingkat punya asrama masing-masing dan ada penjaga yang selalu mengontrol,’’ terangnya.

 Selain itu, menurut Ariyandi pihak sekolah juga selalu berusaha mengikis jarak pemisah antara senior dan junior. Salah satunya dengan mengisi kegiatan ekstrakurikuler di lingkungan STIP. Begitu juga dengan kegiatan malam keakaraban yang rutin diselenggarakan di antara para siswa. ’’Kami selalu kondisikan agar jangan sampai ada gap yang begitu tinggi antara angkatan lama dan baru. Selalu kami wadahi dalam bentuk kegiatan yang positif,’’ ungkapnya.

Ariyandi menegaskan, meskipun saat ini pihak sekolah masih menunggu hasil pemeriksaan empat tersangka oleh kepolisian dan badan investigasi, namun para siswa tersebut sudah pasti akan dikeluarkan. Menurutnya, semua bentuk kekerasan di lingkungan STIP tidak bisa ditolerir. ’’Setiap taruna sudah tahu konsekuensinya, karena sudah mereka sepakati sejak masuk ke sekolah ini. Jadi ya konsekuensinya mereka memang diberhentikan,’’ terangnya.  (gum/mia)

STIP Bukan Sekolah Tinggi Ilmu Penganiayaan

Korban

Amirulloh Adityas Putra (tewas)

Ahmad Fajar (luka)

Ilham Wally (luka)

Bagus Budi Prayoga (luka)

Josua Simanjuntak (luka)

Benny Syahril (luka)

Pelaku

Sisko Mataheru (19)

Willy Hasiholan (20)

Iswanto (21)

Akbar Ramadhan (19)

Jakario (19)

TKP

Tempat ganti pakaian unit kegiatan marching band Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran

Kronologi

Salah satu pelaku seorang pelaku, Sisko Mataheru, mengajak teman-temannya tingkat II untuk melakukan ploncoan terhadap anggota junior unit kegiatan marching  band.

Para pelaku mengumpulkan enam juniornya di ruangan dermotory ring 4 atau tempat ganti pakaian mahasiswa sekitar pukul 22.00

Di tempat itu para pelaku membariskan juniornya dan melakukan penyiksaan.

Pelaku memukul bagian dada dan ulu hati dengan tangan kosong

Pelaku juga secara beruntun melakukan tendangan kaki terhadap para korbannya.

Dua jam dipukuli, Amir tumbang

Dokter menyatakan Amir tewas pukul 00.15 WIB

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
100%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%