Puasa Tahun Ini Lebih Sejuk

Minggu, 05 Juni 2016 | 02:35
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Indopos.co.id-Bulan puasa tahun ini agak berbeda dengan 2015 lalu. Tahun ini diperkirakan lebih sejuk. Fenomena La nina diprediksi muncul menggantikan el nino, pada musim kemarau 2016 nanti.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya mejelaskan, musim kemarau tahun ini diperkirakan sangat singkat. Dimana, dinamika el nino di atmosfer juga sudah meluruh jadi netral.

Sampai saat ini saja, belum semua wilayah menunjukkan peralihan musim menuju kemarau. Tercatat, baru 31,6 persen daerah yang sudah mengalami perubahan musim ini. Sisanya, masih mengalami musim hujan. Padahal, musim kemarau diprediksi muncul pada akhir Maret-September.

"Saat ini seperti sudah masuk la nina, tapi terpantau masih sangat netral," tuturnya dalam acara persiapan angkutan lebaran, di Kementerian Perhubungan, kemarin (3/6).

Andi mengatakan, kemungkinan fenomena la nina menggantikan el nino yang cukup kuat memang besar. Dari data statistik selama 50 tahun terakhir, 75 persen el nino akan diikuti la nina. Dengan kata lain, curah hujan akan tinggi saat la nina nanti.

"La nina diprediksi muncul Juli-September," tuturnya.

Menurutnya, tahun ini akan cukup menarik. Karena, munculnya la nina hampir bersamaan dengan dipole mode negatif. Yakni, kondisi di mana suhu muka laut bagian Barat Sumatera lebih hangat dari suhu muka laut di Pantai Timur Afrika. sehingga, menyebabkan pasokan uap air bertambah dan curah hujan tinggi untuk Sumatera bagian Barat, Sumatera bagian Selatan serta Selatan Jawa pada periode Juni-Juli. "Ini yang kita sebut dengan kemarau basah. Sehingga, puasa nanti tidak sepanas tahun lalu. Lebih sejuk," ungkapnya.

Akan tetapi, kondisi ini harus diantisipasi. Sebab, periode mudik lebaran juga akan terdampak. Pada Bulan Juli kondisi cuaca diprediksi banyak berawan. salah satunya awan-awan yang bisa menyebabkan resiko turbulensi. Kondisi ini terjadi di Indonesia bagian Barat dan Kalimantan.

"Harus waspada. Tinggi gelombang juga diprediksi mencapai 4-6 meter di Barat Sumatera dan Selatan Jawa," ungkapnya. Selain itu, curah hujan yang mencapai 50 mm/hari menyebabkan momen lebaran bakal dilewati dengan curah hujan tinggi.

Terkait ramalan cuaca tersebut, Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Suprasetyo meyakinkan bahwa hal ini dapat diatasi. Dia mengatakan, setiap pesawat memiliki radar yang bisa mendeteksi kondisi tersebut. Ditambah lagi, kemampuan pilot yang sudah mumpuni untuk menghadapi ancaman tersebut. "Tentu akan kita antisipasi," paparnya.

Pihaknya sendiri sudah mulai melakukan pemeriksaan pada 526 pesawat untuk angkutab lebaran. Ramp Check dilakukan di 25 bandara di Indonesia. "Tahun ini pak Menteri Perhubungan minta semuanya diperiksa. Tidak lagi sampling. Ini untuk safety ya," jelasnya.

Penumpang udara sendiri diprediksi sebanyaj 6.972.069 penumpang, yang terbagi menjadi 6.099.659 penumpang domestik dan sisanya, 872.410 penumpang internasional. Jumlah ini naik 7,62 persen dari tahun lalu.

Spesialis neuroscience dari University California Irvine Taruna Ikrar mengatakan umat muslim harus maksimal dalam menunaikan ibadah puasa. Dalam kajian ilmu tentang otak, berpuasa selama 30 hari bisa memperbaiki struktur otak. ’’Jadi teori ilmiahnya, selama puasa otak akan mendapatkan rangsangan atau stimulus positif,’’ jelasnya di Jakarta kemarin (3/6).

Selama menjalankan puasa, di Islam atau puasa di agama lain, seseorang akan mengalami perubahan di bagian sinaptik otaknya. Sinaptik itu adalah penghubung antara neuron-neuron yang ada di dalam otak manusia. Nah selama berpuasa, sinaptik itu akan mendapatkan rangsangan yang positif.

Perubahan yang kedua biasa disebut neurogenesis. Akademisi jebolan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar itu menjelaskan, neurogenesis adalah proses penumbuhan atau regenerasi neuron-neuron. Di enam jam terakhir selama berpuasa, Taruna mengatakan terjadi rangsangan dari metabolisme tubuh untuk penumbuhan neuron-neuron baru. Nah neuron yang baru tumbuh ini, akan membawa memori positif menggantikan neuron yang sudah mati.

Proses perubahan yang ketiga adalah neuro kompensasi. Dia menjelaskan neuro kompensasi itu adalah akumulasi dari munculnya neuron-neuron baru yang membawa memori yang positif. Setelah terakumulasi cukup banyak, neuron yang membawa memori positif ini bisa membawa manusia untuk berperilaku lebih baik dibanding sebelum menjalani puasa.

Kunci dari kajian perkembangan neuron selama puasa itu, tidak sebatas urusan biologi saja. Selama proses pertumbuhan neuron baru, manusianya tetap harus mendapatkan input atau rangsangan yang positif. Jika di dalam Islam, bisa dengan mengikuti pengajian-pengajian atau kuliah keagamaan. Jadi puasa bisa membawa seseorang menjadi insan yang lebih baik, itu juga ada kajian ilmiahnya dari sisi neuroscience.

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menuturkan bahwa masyarakat sudah semakin dewasa dan memahami perbedaan ritual keagaaman. Bila awal puasa tahun ini berbedapun dia yakin tidak akan ada gejolak di tengah masyarakat. Warga tetap teduh dalam perbedaan. ”Kalau perbedaan awal Ramadan itu tidak kelihatan. Yang kelihatan kalau berbeda Lebaran. Satu sudah pakai pakaian baru yang lain belum,” ujar JK di Istana Wakil Presiden, kemarin (3/6).

Dia menekankan bahwa seluruh masyarakat juga harus saling menghormati. Yang puasa menghormati yang tidak puasa. Begitu pula sebaliknya. ”Yang tidak puasa menghormati dengan tidak merokok. Kantin juga tutup,”  tambah dia.

Namun, ketua umum Dewan Masjid Indonesia itu mengingatkan kalau perbedaan dalam ibadah seperti penentuan awal Ramadan atau Lebaran itu tentu tidak bisa dikompromikan. Itu sama halnya dengan mengkompromikan halal dan haram. Orang yang yakin bahwa sudah waktunya Lebaran tentu haram hukumnya untuk berpuasa.

 

Pantau Stok Pangan

Belum ada tanda-tanda harga kebutuhan pokok turun jelang awal puasa. Malah harga cenderung naik. Data dari Kementerian Perdagangan menunjukan harga daging malah naik dikisaran Rp 114.396 per kilogram. Padahal, dalam sepekan terakhir bertahan sekitar Rp 113 ribu.

Komoditas lain seperti beras, gula, minyak goreng, daging ayam, dan telur ayam juga merangkak naik. Meskipun belum terlalu tinggi. Diantara komoditas tersebut yang kenaikannya paling tinggi dalam adalah telur ayam. Pada pertengahan Mei, harga telur ayam secara nasional itu dikisaran Rp 22.420 per kilogram. Sedangkan harga kemarin mencapai Rp 24.092. Ada kenaikan sampai Rp 1.672.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebutkan bahwa harga komoditas yang belum turun itu lantaran permintaan dari masyarakat memang makin tinggi jelang Ramadan. Bila suplai barang tersebut tidak segera diimbangi, harga akan terus naik. ”Harga naik turun itukan karena supply dan demand,” ujar JK di Istana Wakil Presiden di Jalan Medan Merdeka Selatan, kemarin (3/6).

Pemerintah tentu saja tidak bisa secara langsung menentukan harga. Sebab, naik turunnya harga itu sangat bergantung pada mekanisme pasar. Termasuk misalnya dengan menentukan harga eceran tertinggi untuk komoditas utama. ”Tidak mungkin lagi mengontorl harga,” kata JK.

Di negara lain seperti Malaysia memang ada kontrol harga. Tapi, mereka memberikan subsidi yang cukup besar bagi 30 juta warganya. Kondisi itu tentu berbeda sekali dengan Indonesia yang punya 250 juta penduduk. Untuk menurunkan harga itu, satu-satunya cara adalah dengan memperbanyak stok di pasar. ”Menaikan suplai itu dengan produksi sendiri. Kalau tidak mudah (produksi, red) ya musti impor seperti daging sapi,” jelas dia.

Impor memang akan cukup dilematis pula bagi para peternak dalam negeri. Mereka tentu akan merugi kalau daging impor membanjiri pasar daging. Tapi, pemerintah juga harus memperhatikan para konsumen yang membutuhkan daging dengan harga terjangkau.

JK menyebutkan khusus untuk harga daging sebenarnya bisa saja ditekan hingga Rp 60 ribu perkilogram. Bukan Rp 80 ribu perkilogram seperti keinginan Presiden Joko Widodo. Caranya dengan membanjiri pasar daging dalam negeri dengan impor. Tapi, langkah tersebut tentu tidak dilakukan pemerintah demi memihak pada peternak.  ”Di India harga daging itu Rp 50 ribu per kilogram. Kalau ditambah ongkos dan lain-lain sekitar Rp 60 ribu atau Rp 70 ribu,” ujar JK.

Harga daging yang tinggi sebenarnya juga berbahaya juga untuk kelanjutan peternakan di dalam negeri. Para peternak bisa jadi akan gelap mata. Mereka akan menyembelih sapi betina produktif. Bahkan sapi perah pun disembelih. ”Jadi menyenangkan peternak itu ada batasnya. Yaitu sampai dimana dia hanya memotong yang jantan dan jangan berlebihan,”  imbuhnya.

Sementara itu, lonjakan harga sembako yang diduga tidak wajar membuat Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri turun tangan. Setelah mensurvey sejumlah lokasi dan dilakukan rapat koordinasi ada sejumlah masalah yang diprediksi menjadi biang keladi kenaikan harga sembako. Di antaranya, terhambatnya transportasi dan ketersediaan pasokan sembako yang tidak mencukupi.

Kabareskrim Irjen Ari Dono Sukmanto menerangkan, transportasi pengiriman sembako memang belum terlalu lancar. Hal itu dikarenakan berbagai sebab dan sekarang sedang dibahas cara mengatasinya. ”Kelancaran pengiriman sembako ini penting dalam penentuan harga, ini menjadi salah satu fokus,’ tuturnya.

Lalu, ketersediaan sembako saat ini juga masih menjadi problem. Dia menuturkan dalam rapat koordinasi itu diketahui masih ada stok sembako yang kurang. ”Ada rencana untuk melakukan impor, namun itu terserah kementerian,” ujarnya.

Selama ini, ada dugaan bahwa sembako banyak ditimbun untuk melonjakkan harga. Karena itu, Bareskrim telah berupaya untuk menurunkan satuan tugas khusus. Tugasnya untuk mendeteksi kemungkinan penimbunan itu. ”Kami sudah terjun ke lapangan sejak beberapa minggu yang lalu,” terangnya.

Satgas khusus tersebut akan bekerja dengan menggelar razia sembako dengan lebih intens. Sehingga, bila terjadi penimbunan, bisa dideteksi lebih awal. ”Razia lebih sering itu pasti berdampak,” ujarnya.

Bahkan, tidak hanya Bareskrim, jajaran Polda se-Indonesia juga telah diinstruksikan oleh Kapolri Jenderal Badrodin Haiti untuk turut serta menggelar razia sembako. Tentunya, bila ditemukan adanya kejanggalan, proses hukum akan diterapkan. ”kalau ada pidananya, tentu akan langsung diproses,” paparnya.

Apakah sudah ditemukan adanya penimbunan? Dia menjelaskan bahwa selama ini pihaknya terus mendeteksi adanya penimbunan. Laporan soal penimbunan juga belum muncul. ”Kita berupaya terus,” papar mantan Wakil Kabareskrim tersebut.

Dia mengklaim bahwa turunnya anggota kepolisian untuk mempelajari rantai distribusi sembako ini mulai terasa dampaknya. Salah satunya, di beberapa daerah mulai terasa harga sembako yang turun. ”dari laporan, harga beberapa sembako sudah ada yang bagus kok,” ujarnya. (jun/idr)
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%